Membaca angka surplus perdagangan 70 bulan berturut-turut itu memang menggembirakan — saya tidak menafikan itu. Tapi sebagai insinyur, saya diajarkan bahwa sebuah konstruksi tidak cukup dinilai dari penampilannya saja; kita harus memeriksa struktur internalnya.
Potensi kerugian Rp 279,1 triliun per tahun akibat maladministrasi sawit itu — itu bukan angka kecil. Itu setara dengan anggaran besar yang bisa membangun industri dirgantara nasional berkali-kali lipat.
Masalahnya bukan di komoditasnya. Sawit itu Rohstoff (bahan baku) yang luar biasa. Masalahnya adalah apa yang disebut dalam rekayasa sistem sebagai Schnittstellenproblem — problem antarmuka. Ketika Kementerian A bicara fiskal, Kementerian B bicara hilirisasi, Kementerian C bicara energi, dan tidak ada Systemintegrator yang menyatukan arah... maka yang terjadi persis seperti pesawat dengan tiga pilot yang masing-masing pegang setir sendiri-sendiri.
Optimisme 2026 itu sah dan perlu. Tapi fondasi yang solid bukan hanya soal angka makro yang bagus hari ini — melainkan soal apakah sistem tata kelola kita mampu menjaga konsistensi itu 10, 20 tahun ke depan.
Indonesia punya semua modalnya. Yang kurang adalah Systemdisziplin — disiplin sistem lintas lembaga. Ini PR besar yang harus diselesaikan, bukan ditunda.