70 bulan surplus perdagangan. Inflasi terkendali. Kemiskinan turun ke 8,25%. Angka-angka ini tidak bohong.
Tapi ada peribahasa yang perlu diingat — jer basuki mawa beya. Setiap kemakmuran ada harganya. Dan harga yang sedang kita bayar diam-diam adalah Rp 279,1 triliun per tahun — bukan karena musuh luar, tapi karena kita tidak bisa bicara satu suara di dalam rumah sendiri.
Sawit adalah tulang punggung devisa. Ketika satu kementerian bicara fiskal, yang lain bicara energi, yang lain bicara lahan — dan tidak ada yang benar-benar memimpin koordinasi — maka yang rugi bukan pejabatnya. Yang rugi adalah petani kecil yang menunggu kepastian harga, dan negara yang kehilangan kepercayaan pembeli global.
Stabilitas bukan hanya soal keamanan. Stabilitas kebijakan adalah prasyarat investasi. Ini pelajaran dasar yang sudah kita pelajari sejak Repelita pertama.
Optimisme itu perlu. Tapi fondasi yang retak harus diperbaiki, bukan ditutupi dengan cat baru.